Selasa, 16 Juni 2009

Jam 10.30 Pak Pos Nganter Surat Kelulusan

Alhamdulillah!!

LULUS!!!

Finally, saya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang selanjutnya.
Dan The London School of Public Relations Jakarta akan segera menjawab semua cita-cita saya di masa mendatang.

Minggu, 14 Juni 2009

Telapak Tangan

Pancaran sinar matahari itu sejenak menerpa wajah, yang terlihat datar, sunyi senyap tanpa sedikitpun suara. Matanya menerawang jauh. Pikirannya kabur entah ke mana. Membayangkan banyak hal yang tidak penting. Tidak penting bagi yang tidak niat memikirkannya, tapi buatnya itu penting terkadang. Sebuah bayangan tiba-tiba hinggap begitu saja. Berlarut-larut ia bisa memikirkannya dan bila suatu peristiwa terjadi dalam hidupnya hari ini beberapa jam ke depan pasti esok ia bisa melupakannya. Begitulah sebuah kehidupan yang dialami Sudiyanti dalam kesehariannya.

Kadang ia terusik dengan sebuah kata, yaitu ”kehidupan”. Apa yang sebenarnya ada dalam sebuah kehidupan? Berbagai sisi dan sudut pandang pasti ada di dalamnya. Namun tidak tentu. Seperti sebuah kalimat yang tidak koheren. Kata makna yang seharusnya di dekatkan dengan kehidupan. Apabila kita mengerti apa makna yang tersembunyi dalam kehidupan pasti kita tahu bagaimana cara kita bersikap, menjalani hidup dalam diri sendiri, berinteraksi dengan Tuhan, lingkungan dan sesama.

Di telapak tangan kita banyak sekali garis-garis. Mungkin ada sebagian orang yang berkata bahwa itu adalah garis kehidupan. Hidup tanpa makna sama saja bohong. Kita akan merasa hampa, kosong. Namun dari setiap ruang kehidupan banyak rahasia. Rahasia perasaan, kecerdasan dan kepiwaian dalam merangkai kata pada saat berkomunikasi. Dalam hidup kita bisa banyak belajar. Bukan hanya dalam arti menuntut ilmu tapi belajar mengatasi berbagai masalah pelik yang terkadang sulit dipecahkan. Percaya atau tidak setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Tidak ada satu pun masalah yang tidak dapat terselesaikan. Asal kita mau, mau untuk melewati jalan keluar yang penuh liku. Berkelok-kelok namun dapat kita tempuh.

Satu Hal yang Paling Membuat Saya Benci

Saat ini berat badan saya 67kg dengan tinggi badan 155cm.

Dan saya rasa itu sangat buruk sekali bagi seorang wanita.

Arrrrgghh!!!

Saya harus bisa membuat berat badan saya turun menjadi 42kg dengan tinggi 155cm kalau memang tinggi badan saya tidak bisa bertambah lagi.

Kamis, 11 Juni 2009

Perasaan Saya??

Sedikit hancur.


Seolah seperti memiliki beban berat.


Ketika saya tiba-tiba teringat cincin putih yang terpasang di middle finger tangan kanannya.


Pertanda apa itu?


Apakah dia sudah bertunangan?


Dengan siapa?


Kapan?


Dan di mana?


Kenapa ibunya tidak memberi kabar ke orangtua saya?


Kami adalah saudara.


Yaa Tuhan... badai yang tengah saya rasakan begitu kencang.


Ombak terasa sangat keras menghantam bibir pantai malam ini.


Lalu bagaimana ini?


Hancur rasanya.


Bagaimanapun saya harus menyadari posisi saya.


Akankah suatu saat nanti saya akan mendapatkan yang lebih tepat dan lebih baik daripada ini?


Entahlah... hanya Tuhan yang berencana dan Tuhan-lah yang menentukan.

Rasa

Saya ingin mencari dia.

Saya ingin menemui dia.

Dan saya berkhayal meminum secangkir cappucino hangat sambil menikmati keindahan langit malam bersama dia dan cerita hidupnya.

Atau bahkan mungkin hanya dengan ucapan "hai!" bisa membuat hati saya lega.

Tapi... bagaimana caranya? Saya bingung.

Belum pernah saya merasa terjebak dalam situasi sesulit ini.
Saya hanya bisa berangan wajahnya, postur tubuhnya, kacamatanya yang membuat dia terlihat lebih intelek, kemeja putih yang terakhir saya lihat bertengger di tubuh jangkungnya, punggungnya yang terlihat begitu dekat di depan mata saya, sapaannya pada ibu saya, obrolannya dengan ayah saya.

Saya begitu kagum dengan penampilannya yang terlihat begitu dewasa.

Apakah mungkin sebuah rasa di hati saya akan berlanjut menjadi kisah nyata dan bukan sebagai imajinasi terindah saja.

Rasa itu begitu kuat dan sangat terlihat jelas di hati saya.

Yaa Tuhan kenapa saya merasakan ini bukan pada orang yang tepat?

Rahasia apa yang Kau sembunyikan yaa Tuhan? Karena dia adalah sepupu saya.

Dan itu tidak akan mungkin terjadi.

Apa respon keluarga besar saya nanti jika itu benar-benar terjadi?

Senin, 08 Juni 2009

Sesuatu yang Tidak Kasat Mata

Mimpi, cita-cita dan harapan pasti ada di masing-masing diri setiap orang. Saya pun begitu. Saya bukan hanya seorang anak manusia yang pandai bermimpi namun saya adalah seseorang yang ingin selalu berusaha untuk menghadirkan mimpi itu ke dunia nyata meskipun tidak semuanya berjalan mulus sesuai dengan harapan. Perjalanan hidup yang cukup rumit untuk saya tidak akan pernah mampu mengikis setiap mimpi dan cita-cita yang menjalar di hati dan pikiran saya begitu saja. Rumit untuk saya tapi mungkin tidak untuk orang lain. Okelah, banyak orang yang melihat diri saya dari luar begitu simpel dan sederhana, tapi tidak untuk hati saya. Sepersekian detik hati dan pikiran saya selalu berangan-angan dan berusaha untuk membuat sesuatu yang baru. Namun semua itu tidak berjalan dengan baik dan lancar. Banyak cobaan, rintangan, godaan, napsu yang kerap kali mengganggu dan menghantui diri saya sehingga tidak jarang saya merasa terhambat dengan itu semua. Manusiawi menurut saya.

Saya sangat mengakui bahwa saya bukanlah seseorang yang ekstrovert dan juga bukan seseorang yang introvert. Saya senang bersosialisasi dan berkumpul dengan banyak orang dan membicarakan banyak hal, tetapi di sisi lain saya juga suka menyendiri dan menjauh dari lingkungan. Bagi saya itu sangat menarik, karena sering kali saya merasa butuh sesuatu yang hingar bingar dan tempat berbagi pengalaman. Namun terkadang saya juga butuh tempat yang sunyi senyap jauh dari keramaian untuk menuangkan semua ide-ide, curahan hati dan inspirasi yang tiba-tiba muncul di benak dan hati saya. Untuk saat ini saya cukup nyaman dengan kehidupan saya saat ini. Tetapi setiap manusia pasti tidak akan penah tahu apa yang akan terjadi suatu saat nanti dan semua itu tidak akan pernah lepas dari kehendak yang di Atas. Mungkin saja kebribadian saya bisa bermetamorfosis suatu saat nanti, karena saya sangat mengakui bahwa jiwa saya masih sangat labil saat ini. Dengan umur 18 tahun saya rasa saya masih memiliki banyak kesempatan untuk berubah menjadi baik dan bukan untuk menjadi sebaliknya.

Saya adalah salah satu contoh orang tidak pernah bisa menceritakan masalah pribadi saya pada setiap orang, terutama orang yang baru saja saya kenal. Setiap ada masalah yang muncul dan mengganggu pikiran saya, saya selalu berusaha untuk mencurahkan semua perasaan saya. Entah melalui tulisan atau mungkin menceritakannya pada orang terdekat seperti yang biasa orang lain lakukan. Dan saya rasa tidak semua orang terdekat saya dapat saya ceritakan masalah yang menyangkut diri saya. Saya selalu meninjau kembali masalah yang terjadi pada diri saya dan ke mana saya akan mencurahkan isi hati saya selanjutnya dan mana orang yang tepat memberikan solusi terbaik untuk diri saya. Pastinya saya memilih mana cerita yang pantas dan tidak pantas saya ceritakan pada orang tersebut. Bahkan saya lebih sering meluapkan semua masalah dan cerita-cerita saya dengan tulisan. Dengan cara itu tidak jarang saya merasa lega. Seolah saya memiliki tempat tersendiri untuk membagi semua keluh kesah yang mengganjal di hati. Saya adalah orang yang agak sedikit pendiam bahkan cenderung sangat pendiam apabila bertemu orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Saya selalu butuh waktu dan proses untuk bisa bicara dengan orang lain tanpa rasa canggung. Karena saya bukanlah orang yang pintar dalam memilih topik yang baik dalam mengawali pembicaraan. Begitulah saya.

Rabu, 29 April 2009

ESCAPE : epilogue

Berawal ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMP. Saat itu saya merasa bahwa hidup saya amat sangat tidak bermakna. Sepersekian detik hidup saya, sering saya gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Entah makhluk halus apa yang menyelimuti hidup saya pada saat itu. Kekuatan-kekuatan untuk menjauh dari berbagai macam jenis mata pelajaran terasa makin kokoh. Pola hidup saya menjadi tidak seimbang. Kemudian saya bermatamorfosis menjadi gembel yang buta mata pelajaran.

Hari-hari saya di sekolah semakin hancur. Saya menjadi sangat senang duduk di bangku pojok bagian belakang dan menjadi hobi berteman dengan orang-orang yang sama tidak warasnya seperti saya. Mulai saat itulah saya menjadi sangat menggandrungi fiksi. Mungkin hal itu bisa menjadi positif apabila saya memandangnya sebagai sebuah penerang dalam hidup saya untuk belajar menjadi sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kenyataannya sangat berlawanan. Dengan tidak bermodalkan pengalaman apa-apa tentang hal tulis-menulis mendadak saya terobsesi yang menjadi seorang penulis. Segala hal yang tidak berhubungan dengan tulis-menulis saya singkirkan, terutama mata pelajaran di sekolah. Pikiran saya benar-benar buntu pada saat itu dan tidak bisa berfikir secara logis sesuai dengan nalar.

Dengan berani dan rasa percaya diri yang tinggi setiap hari saya berusaha untuk membuat novel. Entah itu dari satu sampai lima halaman atau mungkin lebih sedikit dari itu bahkan bisa lebih banyak dari itu. Coba saja kita renungkan dibalik kesuksesan penulis-penulis senior pasti ada berbagai macam bentuk usaha kecil yang dapat membawa mereka ke sebuah pintu kesuksesan. Biasanya menurut cerita kilas balik perjalanan penulis-penulis senior membuat cerita dalam ukuran sederhana, sedikit dan tidak membuat cerita yang kompleks dan hal itu memang sangat masuk akal. Tapi buat saya pada saat itu sama sekali tidak berlaku, karena dalam pikiran saya sudah terpatri kuat, ”Tidak semua penulis yang mengawali kariernya dengan membuat cerpen. Saya yakin bahwa saya bisa membuat terobosan baru sebagai penulis yang mengawali perjalanan kariernya langsung dengan membuat novel.”. Mungkin memang ada orang yang seperti itu yang hidup entah di belahan dunia bagian mana. Tapi lambat laun saya berusaha introspeksi diri bahwa saya tidak mampu. Saya merasa kemampuan saya hanya sampai ujung kelingking saja sudah bagus.

Makin hari kelakuan saya makin aneh saja. Sering kali saya memiliki niat untuk tidur di kelas, cabut dari sekolah dengan cara loncat dari pagar mesjid, tapi niat itu selalu gagal. Hal itu disebabkan oleh rasa takut pada satpam sekolah yang bertubuh besar dengan perutnya yang buncit yang biasa disapa ”Babeh” itu. Orangnya tidak memiliki wajah ramah dan terkesan angkuh. Saya sangat memikirkan apa dampak yang akan terjadi apabila hal itu benar-benar terjadi. Mungkin reputasi saya sebagai siswi sekolah negeri favorit yang sudah hancur bisa makin hancur lagi.

Langkah demi langkah saya jalani. Namun apa yang saya dapat? Saya terjatuh, terperosok ke jurang yang sangat tajam dan dalam. Hancur semua nilai-nilai mata pelajaran pada semester satu saat itu. Saya mendapatkan nilai 5 di rapot pada mata pelajaran Matematika. Wajar saja, pasalnya nilai-nilai ulangan harian saya memang tidak jauh dari angka 3. Paling bagus saya mendapat 5 pada mata pelajaran itu. Sedari dulu saya memang tidak menyukai pelajaran eksakta ditambah lagi dengan kelakuan saya yang membabi buta ingin menjadi seorang penulis dengan menelantarkan semua mata pelajaran.

Sejak saat itu saya menjadi berpikir. Mungkin apa yang terjadi pada diri saya pada saat itu merupakan bagian dari bentuk pemberontakan terhadap ayah saya yang selama ini selalu mengekang diri saya. Saya selalu merasa bahwa beliau selalu menerapkan cara-cara klasik dalam hidup saya. Banyak sekali sikap-sikap konservatif yang saya rasakan di dalam hunian rumah saya. Bahkan dalam hati saya pernah merasa banyak sikap yang tidak berjalan dengan baik mungkin ini yang dinamakan sosialisasi tidak sempurna.

Karena kanakalan saya itulah mungkin Tuhan pun menguji saya. Betapa sulitnya saya menjalani semester dua di kelas tiga SMP. Hari demi hari saya lalui dengan begitu berat. Saya agak sedikit lupa, kalau tidak salah selama seminggu saya harus rutin mengikuti pelajaran tambahan sebanyak tiga kali. Hal itu disebabkan dengan makin dekatnya Ujian Nasional. Tapi pada saat itu menurut saya percuma saja. Saya mengikuti pelajaran tambahan hanya bermodalkan buku, tidak bermodalkan otak dan bermodalkan ngantuk. Jadi, apapun yang saya dapatkan di sekolah sama sekali tidak ada artinya. Try Out UN pertama saya tidak lulus dengan nilai pada mata pelajaran Matematika saya memperoleh angka 3. Pra UN akhirnya saya lulus namun dengan nilai yang sangat minim dan terkesan pas-pasan. Selama Ujian Nasional ayah saya makin menekan saya di rumah. Saya digembleng habis-habisan dan saya pun menuai hasilnya dengan bermodalkan pengetahuan yang sangat minim. Nilai UN saya meningkat dengan rata-rata 7 pada setiap mata pelajaran. Setidaknya itu merupakan suatu kemajuan besar bagi diri saya. Apalagi bila dilihat dari rasa semangat saya yang sangat kendor.

Namun ternyata cobaan berat saya masih terus berlangsung. Begitu sulitnya saya untuk lulus sebagai siswa salah satu SMA Negeri favorit di kota saya. Rasa penyesalan itu makin mendalam dan saya pun akhirnya terdampar di Perguruan Ananda tempat saya melanjutkan sekolah setelah SMP. Hanya ada rasa keterpaksaan yang mengganjal di hati saya ketika melanjutkan pendidikan SMA di sana. Mungkin itu yang sudah menjadi jalan takdir saya. Bagaimanapun saya harus menjalaninya dengan senang hati.

Di latar belakangi oleh berbagai cobaan itu akhirnya saya pun mencoba untuk mengubah cara pandang saya. Mengubah mindset saya dan berusaha berpikir selayaknya manusia lainnya. Setelah mengalami berbagai cobaan saya akhirnya menaruh perhatian besar dalam diri saya dan berprinsip bahwa saya harus ”berubah”. Berubah dalam segala hal, terutama berubah untuk maju. Basically, saya memang anak yang penurut di lingkungan keluarga. Nyatanya saya bisa bertahan selama itu dikekang oleh ayah saya. Bisa dibayangkan hal tersebut terjadi semenjak saya duduk di bangku taman kanak-kanak. Saya harus tetap duduk di bangku dengan dihadapkan buku-buku mata pelajaran yang menurut saya pada saat itu sama sekali kurang menarik minat dan perhatian saya. Wajar saja karena saya memang gemar bermain dengan teman-teman yang berada di lingkungan tempat tinggal saya.

Mulai saat itu saya menjadi orang yang rajin belajar. Banyak buku mata pelajaran yang selalu saya baca tiap malamnya. Selalu giat mendengarkan guru yang mengajar di kelas dan di SMA Ananda-lah prestasi saya kemudian meningkat. Selama dari kelas satu sampai kelas tiga saya selalu menduduki peringkat tiga besar di kelas. Pada saat penjurusan program studi pun saya akhirnya memilih program studi IPS. Hal itu dikerenakan hobi saya yang senang sekali menulis dan membaca fiksi akhirnya saya bercita-cita untuk menjadi wartawan untuk mengembangkan bakat dan minat saya yang selama ini terpendam. Meskipun saya selalu sadar bahwa kemampuan dan pengalaman saya begitu buruk dalam hal menulis tapi saya berusaha untuk dapat belajar mengembangkan diri dan menambah wawasan. Mungkin dengan menjadi wartawan pengetahuan saya akan dunia luar dapat menjadi luas. Begitulah harapan saya.

Sebuah Alasan

Ada salah seorang teman gue bertanya, ”Sudi, lo kuliah mau ambil apa?”

Gue pun menjawab dengan singkat, ”Komunikasi.”

Teman gue itu kembali bertanya, ”Mau nyantai ya? Sama, gue juga mau ambil komunikasi. Kayak kakak gue. Kalau gue liat kayaknya enak jadi PR, nggak usah pusing-pusing cuma modal ngomong doang. Soalnya temen kakak gue ada tuh yang magang di TRANSTV. Pengen tuh kayak dia, biar bisa nyantai, nggak pusing kayak di sekolah yang mikirin banyak pelajaran.”

Sementara gue hanya mencoba tersenyum dan menganggukkan kepala seolah menyetujui asumsinya yang gue anggap sangat menyimpang. Tapi dalam hati, gue menganggap itu sebagai sebuah asumsi yang salah. Jika dilihat dan dipikir, sebenarnya tidak ada orang yang mau mengambil suatu jurusan untuk kuliah dengan alasan SANTAI, kecuali orang yang memiliki mental menyimpang seperti teman gue tadi. Buat gue nggak ada yang santai kalau mau sukses dan berhasil di bidangnya. Segala sesuatu butuh pengorbanan, butuh keringat untuk mencapai suatu puncak di mana bisa membuat kita tersenyum bahagia atas hasil yang kita peroleh dari berbagai macam bentuk perjuangan yang sudah kita lakukan. Mungkin kalau dia berasumsi ingin santai mengambil suatu jurusan maka suatu saat nanti dia akan memperoleh hasil dari rasa santai yang selalu dia harap-harapkan selama ini. Gue hanya tertawa dalam hati kalau mengingat perkataan teman gue itu. Suatu hal yang bodoh.

Ada lagi seorang teman satu kelas gue. Jujur, sebenernya kalau inget orangnya udah malesin apalagi buat menyebut namanya. Tapi menurut gue ini sangat penting untuk diceritakan sebagai sebuah bahan pembelajaran. Percakapan ini terjadi tepatnya di sebuah kelas dengan program studi IPS yang konon katanya tidak ada satupun siswa yang waras di dalamnya, termasuk gue yang sudah sedikit terkontaminasi oleh tindakan-tindakan LIAR—yang pada saat itu sedang ada sebuah promosi dari salah satu perguruan tinggi swasta yang gue rasa sangat diragukan kualitasnya.

”Ah, malay, Ekonomi-Komputer. Nggak ada yang lebih menarik minat apa?” gue pun mengoceh seadanya sambil memperhatikan brosur dari PTS tersebut.

Tiba-tiba temen gue yang malesin itu langsung menoleh ke belakang berhubung dia duduk tepat di depan gue, ”Emang lo mau ambil apa?”

Dengan rasa malas yang berlebih gue pun menjawab pertanyaannya, ”Komunikasi.”

Sepertinya dia tidak puas dengan jawaban singkat dari gue,”Iyaa. Komunikasi apa?”

Dengan cepat gue menjawab,”Komunikasi Masa.” Puas lo? Dalam hati rasanya gue pengen nonjok mukanya yang sumpah, JELEK banget. Gue rasa nih orang nggak pernah punya kaca di rumah makanya nggak pernah sadar, udah JELEK, BELAGU, lagi.

”Emang lo mau ambil apa?” tiba-tiba teman sebangku gue angkat bicara bertanya pada si MONYET BIADAB itu.

”Sama. Mau ambil Komunikasi. Pengen jadi penyiar, gue.” Jawabnya dengan sok yakin dan bangga.

Seketika dalam hati gue tertawa terbahak-bahak. ”Hellooo??? Sebenernya lo tuh makhluk planet dari mana sih? Orang kayak lo? Muka mesum kayak lo? Yang hobi nonton bokep setiap hari? Yang otaknya berisi fantasi-fantasi jorok yang sepersekian detik bermunculan saat bernapas, berjalan, dan berbicara? Yang selalu memandang cewek sebagai pelengkap kebutuhan seksnya di masa depan? Yaa, Tuhan dosa apa gue bisa kenal sama orang kayak lo. Pengen jadi penyiar? Mau jadi apa para pendengar berita? Sungguh kasihan nasib masyarakat di seluruh Indonesia yang dengerin lo baca berita.”

Gue sendiri sering bingung terhadap sudut pandang teman-teman satu kelas gue. Kalau bisa dideskripsikan temen-temen satu kelas gue adalah anak-anak IPS terbobrok di seluruh daerah BEKASI yang miskin akan ilmu pengetahuan karena tidak pernah menerapkan sikap gemar membaca dan selalu menerapkan sikap gemar bermain , bercanda, pecicilan sana-sini, ajang gaya-gayaan. Apakah yang ada dalam otak mereka? Apakah sebenarnya sudut pandang mereka tentang dunia pendidikan? Apakah hanya sebatas memperbanyak teman, sarana bermain, mencari nilai sebanyak-banyaknya dengan cara mendompleng perkerjaan salah seorang teman yang mereka anggap pintar di kelas kemudian menunjukkan kepada orang tua bahwa nilai saya bagus agar mendapat pujian? Sungguh salah besar hidup mereka.

Kalau buat diri gue sendiri, gue punya beragam macam alasan mengapa gue sangat terobsesi untuk mengambil jurusan Komunikasi Massa:

1.Gue selalu menganggap diri gue sangat kurang dalam hal berkomunikasi dan gue ingin sekali mempergunakan peluang ini untuk berusaha belajar dan terus belajar karena gue sangat yakin bahwa diri gue memiliki potensi yang besar. Hati gue yang selalu berkata demikian sehingga keyakinan gue makin bertambah tebal ketika gue merasa memiliki minat ke arah itu.

2.Gue seperti orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Gue selalu bermimpi memiliki banyak wawasan seperti orang-orang hebat yang berada di luar sana. Dengan banyaknya wawasan yang gue miliki, suatu saat gue bisa memperkaya tulisan-tulisan gue diberbagai macam media massa nantinya apabila cita-cita gue benar-benar tercapai suatu saat nanti.

3.Gue sangat menyukai dunia tulis-menulis semenjak gue berada di bangku SMP dan ketertarikan gue makin menjadi-jadi saat gue menonton tayangan televisi yang bejudul DTK(Dunia Tanpa Koma) di sana gue merasa betapa menyenangkannya menjadi seorang wartawan karena bisa mencari dan meneliti berbagai macam bentuk masalah.

Mungkin ini yang dinamakan PANGGILAN JIWA. Kira-kira itu alasan-alasan yang dapat memperteguh keyakinan gue akan masa depan yang akan gue jalani selanjutnya. Saat ini gue hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik agar memperoleh hasil yang maksimal. Semoga cita-cita gue dapat tercapai dengan sempurna. Menjadi seorang wartawan yang handal di bidangnya. Gue selalu yakin setiap ada kemauan, pasti ada jalan.