Rabu, 29 April 2009

ESCAPE : epilogue

Berawal ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMP. Saat itu saya merasa bahwa hidup saya amat sangat tidak bermakna. Sepersekian detik hidup saya, sering saya gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Entah makhluk halus apa yang menyelimuti hidup saya pada saat itu. Kekuatan-kekuatan untuk menjauh dari berbagai macam jenis mata pelajaran terasa makin kokoh. Pola hidup saya menjadi tidak seimbang. Kemudian saya bermatamorfosis menjadi gembel yang buta mata pelajaran.

Hari-hari saya di sekolah semakin hancur. Saya menjadi sangat senang duduk di bangku pojok bagian belakang dan menjadi hobi berteman dengan orang-orang yang sama tidak warasnya seperti saya. Mulai saat itulah saya menjadi sangat menggandrungi fiksi. Mungkin hal itu bisa menjadi positif apabila saya memandangnya sebagai sebuah penerang dalam hidup saya untuk belajar menjadi sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kenyataannya sangat berlawanan. Dengan tidak bermodalkan pengalaman apa-apa tentang hal tulis-menulis mendadak saya terobsesi yang menjadi seorang penulis. Segala hal yang tidak berhubungan dengan tulis-menulis saya singkirkan, terutama mata pelajaran di sekolah. Pikiran saya benar-benar buntu pada saat itu dan tidak bisa berfikir secara logis sesuai dengan nalar.

Dengan berani dan rasa percaya diri yang tinggi setiap hari saya berusaha untuk membuat novel. Entah itu dari satu sampai lima halaman atau mungkin lebih sedikit dari itu bahkan bisa lebih banyak dari itu. Coba saja kita renungkan dibalik kesuksesan penulis-penulis senior pasti ada berbagai macam bentuk usaha kecil yang dapat membawa mereka ke sebuah pintu kesuksesan. Biasanya menurut cerita kilas balik perjalanan penulis-penulis senior membuat cerita dalam ukuran sederhana, sedikit dan tidak membuat cerita yang kompleks dan hal itu memang sangat masuk akal. Tapi buat saya pada saat itu sama sekali tidak berlaku, karena dalam pikiran saya sudah terpatri kuat, ”Tidak semua penulis yang mengawali kariernya dengan membuat cerpen. Saya yakin bahwa saya bisa membuat terobosan baru sebagai penulis yang mengawali perjalanan kariernya langsung dengan membuat novel.”. Mungkin memang ada orang yang seperti itu yang hidup entah di belahan dunia bagian mana. Tapi lambat laun saya berusaha introspeksi diri bahwa saya tidak mampu. Saya merasa kemampuan saya hanya sampai ujung kelingking saja sudah bagus.

Makin hari kelakuan saya makin aneh saja. Sering kali saya memiliki niat untuk tidur di kelas, cabut dari sekolah dengan cara loncat dari pagar mesjid, tapi niat itu selalu gagal. Hal itu disebabkan oleh rasa takut pada satpam sekolah yang bertubuh besar dengan perutnya yang buncit yang biasa disapa ”Babeh” itu. Orangnya tidak memiliki wajah ramah dan terkesan angkuh. Saya sangat memikirkan apa dampak yang akan terjadi apabila hal itu benar-benar terjadi. Mungkin reputasi saya sebagai siswi sekolah negeri favorit yang sudah hancur bisa makin hancur lagi.

Langkah demi langkah saya jalani. Namun apa yang saya dapat? Saya terjatuh, terperosok ke jurang yang sangat tajam dan dalam. Hancur semua nilai-nilai mata pelajaran pada semester satu saat itu. Saya mendapatkan nilai 5 di rapot pada mata pelajaran Matematika. Wajar saja, pasalnya nilai-nilai ulangan harian saya memang tidak jauh dari angka 3. Paling bagus saya mendapat 5 pada mata pelajaran itu. Sedari dulu saya memang tidak menyukai pelajaran eksakta ditambah lagi dengan kelakuan saya yang membabi buta ingin menjadi seorang penulis dengan menelantarkan semua mata pelajaran.

Sejak saat itu saya menjadi berpikir. Mungkin apa yang terjadi pada diri saya pada saat itu merupakan bagian dari bentuk pemberontakan terhadap ayah saya yang selama ini selalu mengekang diri saya. Saya selalu merasa bahwa beliau selalu menerapkan cara-cara klasik dalam hidup saya. Banyak sekali sikap-sikap konservatif yang saya rasakan di dalam hunian rumah saya. Bahkan dalam hati saya pernah merasa banyak sikap yang tidak berjalan dengan baik mungkin ini yang dinamakan sosialisasi tidak sempurna.

Karena kanakalan saya itulah mungkin Tuhan pun menguji saya. Betapa sulitnya saya menjalani semester dua di kelas tiga SMP. Hari demi hari saya lalui dengan begitu berat. Saya agak sedikit lupa, kalau tidak salah selama seminggu saya harus rutin mengikuti pelajaran tambahan sebanyak tiga kali. Hal itu disebabkan dengan makin dekatnya Ujian Nasional. Tapi pada saat itu menurut saya percuma saja. Saya mengikuti pelajaran tambahan hanya bermodalkan buku, tidak bermodalkan otak dan bermodalkan ngantuk. Jadi, apapun yang saya dapatkan di sekolah sama sekali tidak ada artinya. Try Out UN pertama saya tidak lulus dengan nilai pada mata pelajaran Matematika saya memperoleh angka 3. Pra UN akhirnya saya lulus namun dengan nilai yang sangat minim dan terkesan pas-pasan. Selama Ujian Nasional ayah saya makin menekan saya di rumah. Saya digembleng habis-habisan dan saya pun menuai hasilnya dengan bermodalkan pengetahuan yang sangat minim. Nilai UN saya meningkat dengan rata-rata 7 pada setiap mata pelajaran. Setidaknya itu merupakan suatu kemajuan besar bagi diri saya. Apalagi bila dilihat dari rasa semangat saya yang sangat kendor.

Namun ternyata cobaan berat saya masih terus berlangsung. Begitu sulitnya saya untuk lulus sebagai siswa salah satu SMA Negeri favorit di kota saya. Rasa penyesalan itu makin mendalam dan saya pun akhirnya terdampar di Perguruan Ananda tempat saya melanjutkan sekolah setelah SMP. Hanya ada rasa keterpaksaan yang mengganjal di hati saya ketika melanjutkan pendidikan SMA di sana. Mungkin itu yang sudah menjadi jalan takdir saya. Bagaimanapun saya harus menjalaninya dengan senang hati.

Di latar belakangi oleh berbagai cobaan itu akhirnya saya pun mencoba untuk mengubah cara pandang saya. Mengubah mindset saya dan berusaha berpikir selayaknya manusia lainnya. Setelah mengalami berbagai cobaan saya akhirnya menaruh perhatian besar dalam diri saya dan berprinsip bahwa saya harus ”berubah”. Berubah dalam segala hal, terutama berubah untuk maju. Basically, saya memang anak yang penurut di lingkungan keluarga. Nyatanya saya bisa bertahan selama itu dikekang oleh ayah saya. Bisa dibayangkan hal tersebut terjadi semenjak saya duduk di bangku taman kanak-kanak. Saya harus tetap duduk di bangku dengan dihadapkan buku-buku mata pelajaran yang menurut saya pada saat itu sama sekali kurang menarik minat dan perhatian saya. Wajar saja karena saya memang gemar bermain dengan teman-teman yang berada di lingkungan tempat tinggal saya.

Mulai saat itu saya menjadi orang yang rajin belajar. Banyak buku mata pelajaran yang selalu saya baca tiap malamnya. Selalu giat mendengarkan guru yang mengajar di kelas dan di SMA Ananda-lah prestasi saya kemudian meningkat. Selama dari kelas satu sampai kelas tiga saya selalu menduduki peringkat tiga besar di kelas. Pada saat penjurusan program studi pun saya akhirnya memilih program studi IPS. Hal itu dikerenakan hobi saya yang senang sekali menulis dan membaca fiksi akhirnya saya bercita-cita untuk menjadi wartawan untuk mengembangkan bakat dan minat saya yang selama ini terpendam. Meskipun saya selalu sadar bahwa kemampuan dan pengalaman saya begitu buruk dalam hal menulis tapi saya berusaha untuk dapat belajar mengembangkan diri dan menambah wawasan. Mungkin dengan menjadi wartawan pengetahuan saya akan dunia luar dapat menjadi luas. Begitulah harapan saya.

Tidak ada komentar: