Ada salah seorang teman gue bertanya, ”Sudi, lo kuliah mau ambil apa?”
Gue pun menjawab dengan singkat, ”Komunikasi.”
Teman gue itu kembali bertanya, ”Mau nyantai ya? Sama, gue juga mau ambil komunikasi. Kayak kakak gue. Kalau gue liat kayaknya enak jadi PR, nggak usah pusing-pusing cuma modal ngomong doang. Soalnya temen kakak gue ada tuh yang magang di TRANSTV. Pengen tuh kayak dia, biar bisa nyantai, nggak pusing kayak di sekolah yang mikirin banyak pelajaran.”
Sementara gue hanya mencoba tersenyum dan menganggukkan kepala seolah menyetujui asumsinya yang gue anggap sangat menyimpang. Tapi dalam hati, gue menganggap itu sebagai sebuah asumsi yang salah. Jika dilihat dan dipikir, sebenarnya tidak ada orang yang mau mengambil suatu jurusan untuk kuliah dengan alasan SANTAI, kecuali orang yang memiliki mental menyimpang seperti teman gue tadi. Buat gue nggak ada yang santai kalau mau sukses dan berhasil di bidangnya. Segala sesuatu butuh pengorbanan, butuh keringat untuk mencapai suatu puncak di mana bisa membuat kita tersenyum bahagia atas hasil yang kita peroleh dari berbagai macam bentuk perjuangan yang sudah kita lakukan. Mungkin kalau dia berasumsi ingin santai mengambil suatu jurusan maka suatu saat nanti dia akan memperoleh hasil dari rasa santai yang selalu dia harap-harapkan selama ini. Gue hanya tertawa dalam hati kalau mengingat perkataan teman gue itu. Suatu hal yang bodoh.
Ada lagi seorang teman satu kelas gue. Jujur, sebenernya kalau inget orangnya udah malesin apalagi buat menyebut namanya. Tapi menurut gue ini sangat penting untuk diceritakan sebagai sebuah bahan pembelajaran. Percakapan ini terjadi tepatnya di sebuah kelas dengan program studi IPS yang konon katanya tidak ada satupun siswa yang waras di dalamnya, termasuk gue yang sudah sedikit terkontaminasi oleh tindakan-tindakan LIAR—yang pada saat itu sedang ada sebuah promosi dari salah satu perguruan tinggi swasta yang gue rasa sangat diragukan kualitasnya.
”Ah, malay, Ekonomi-Komputer. Nggak ada yang lebih menarik minat apa?” gue pun mengoceh seadanya sambil memperhatikan brosur dari PTS tersebut.
Tiba-tiba temen gue yang malesin itu langsung menoleh ke belakang berhubung dia duduk tepat di depan gue, ”Emang lo mau ambil apa?”
Dengan rasa malas yang berlebih gue pun menjawab pertanyaannya, ”Komunikasi.”
Sepertinya dia tidak puas dengan jawaban singkat dari gue,”Iyaa. Komunikasi apa?”
Dengan cepat gue menjawab,”Komunikasi Masa.” Puas lo? Dalam hati rasanya gue pengen nonjok mukanya yang sumpah, JELEK banget. Gue rasa nih orang nggak pernah punya kaca di rumah makanya nggak pernah sadar, udah JELEK, BELAGU, lagi.
”Emang lo mau ambil apa?” tiba-tiba teman sebangku gue angkat bicara bertanya pada si MONYET BIADAB itu.
”Sama. Mau ambil Komunikasi. Pengen jadi penyiar, gue.” Jawabnya dengan sok yakin dan bangga.
Seketika dalam hati gue tertawa terbahak-bahak. ”Hellooo??? Sebenernya lo tuh makhluk planet dari mana sih? Orang kayak lo? Muka mesum kayak lo? Yang hobi nonton bokep setiap hari? Yang otaknya berisi fantasi-fantasi jorok yang sepersekian detik bermunculan saat bernapas, berjalan, dan berbicara? Yang selalu memandang cewek sebagai pelengkap kebutuhan seksnya di masa depan? Yaa, Tuhan dosa apa gue bisa kenal sama orang kayak lo. Pengen jadi penyiar? Mau jadi apa para pendengar berita? Sungguh kasihan nasib masyarakat di seluruh Indonesia yang dengerin lo baca berita.”
Gue sendiri sering bingung terhadap sudut pandang teman-teman satu kelas gue. Kalau bisa dideskripsikan temen-temen satu kelas gue adalah anak-anak IPS terbobrok di seluruh daerah BEKASI yang miskin akan ilmu pengetahuan karena tidak pernah menerapkan sikap gemar membaca dan selalu menerapkan sikap gemar bermain , bercanda, pecicilan sana-sini, ajang gaya-gayaan. Apakah yang ada dalam otak mereka? Apakah sebenarnya sudut pandang mereka tentang dunia pendidikan? Apakah hanya sebatas memperbanyak teman, sarana bermain, mencari nilai sebanyak-banyaknya dengan cara mendompleng perkerjaan salah seorang teman yang mereka anggap pintar di kelas kemudian menunjukkan kepada orang tua bahwa nilai saya bagus agar mendapat pujian? Sungguh salah besar hidup mereka.
Kalau buat diri gue sendiri, gue punya beragam macam alasan mengapa gue sangat terobsesi untuk mengambil jurusan Komunikasi Massa:
1.Gue selalu menganggap diri gue sangat kurang dalam hal berkomunikasi dan gue ingin sekali mempergunakan peluang ini untuk berusaha belajar dan terus belajar karena gue sangat yakin bahwa diri gue memiliki potensi yang besar. Hati gue yang selalu berkata demikian sehingga keyakinan gue makin bertambah tebal ketika gue merasa memiliki minat ke arah itu.
2.Gue seperti orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Gue selalu bermimpi memiliki banyak wawasan seperti orang-orang hebat yang berada di luar sana. Dengan banyaknya wawasan yang gue miliki, suatu saat gue bisa memperkaya tulisan-tulisan gue diberbagai macam media massa nantinya apabila cita-cita gue benar-benar tercapai suatu saat nanti.
3.Gue sangat menyukai dunia tulis-menulis semenjak gue berada di bangku SMP dan ketertarikan gue makin menjadi-jadi saat gue menonton tayangan televisi yang bejudul DTK(Dunia Tanpa Koma) di sana gue merasa betapa menyenangkannya menjadi seorang wartawan karena bisa mencari dan meneliti berbagai macam bentuk masalah.
Mungkin ini yang dinamakan PANGGILAN JIWA. Kira-kira itu alasan-alasan yang dapat memperteguh keyakinan gue akan masa depan yang akan gue jalani selanjutnya. Saat ini gue hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik agar memperoleh hasil yang maksimal. Semoga cita-cita gue dapat tercapai dengan sempurna. Menjadi seorang wartawan yang handal di bidangnya. Gue selalu yakin setiap ada kemauan, pasti ada jalan.
Rabu, 29 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
+(2)1.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar