Minggu, 14 Juni 2009

Telapak Tangan

Pancaran sinar matahari itu sejenak menerpa wajah, yang terlihat datar, sunyi senyap tanpa sedikitpun suara. Matanya menerawang jauh. Pikirannya kabur entah ke mana. Membayangkan banyak hal yang tidak penting. Tidak penting bagi yang tidak niat memikirkannya, tapi buatnya itu penting terkadang. Sebuah bayangan tiba-tiba hinggap begitu saja. Berlarut-larut ia bisa memikirkannya dan bila suatu peristiwa terjadi dalam hidupnya hari ini beberapa jam ke depan pasti esok ia bisa melupakannya. Begitulah sebuah kehidupan yang dialami Sudiyanti dalam kesehariannya.

Kadang ia terusik dengan sebuah kata, yaitu ”kehidupan”. Apa yang sebenarnya ada dalam sebuah kehidupan? Berbagai sisi dan sudut pandang pasti ada di dalamnya. Namun tidak tentu. Seperti sebuah kalimat yang tidak koheren. Kata makna yang seharusnya di dekatkan dengan kehidupan. Apabila kita mengerti apa makna yang tersembunyi dalam kehidupan pasti kita tahu bagaimana cara kita bersikap, menjalani hidup dalam diri sendiri, berinteraksi dengan Tuhan, lingkungan dan sesama.

Di telapak tangan kita banyak sekali garis-garis. Mungkin ada sebagian orang yang berkata bahwa itu adalah garis kehidupan. Hidup tanpa makna sama saja bohong. Kita akan merasa hampa, kosong. Namun dari setiap ruang kehidupan banyak rahasia. Rahasia perasaan, kecerdasan dan kepiwaian dalam merangkai kata pada saat berkomunikasi. Dalam hidup kita bisa banyak belajar. Bukan hanya dalam arti menuntut ilmu tapi belajar mengatasi berbagai masalah pelik yang terkadang sulit dipecahkan. Percaya atau tidak setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Tidak ada satu pun masalah yang tidak dapat terselesaikan. Asal kita mau, mau untuk melewati jalan keluar yang penuh liku. Berkelok-kelok namun dapat kita tempuh.

Tidak ada komentar: